Kekasih ku tak berbahasa..
Tuli tak mendengar indah nya lantunan kata...
Wajah nya sayu penuh derita...
Dgn rasa ku jalin asmara...
Tiada pernah kubisik kan rayu dan kata mesra...
Tiada pernah pula kusanjung ke elokan nya..
Karna ia tak mengerti sabda yg aku kata..
Tiada pernah pula kubisik kan kata lembut nan mesra...
Tiada pernah pula ku bisik kan kata cinta.. Kasih.. sayang ku padanya...
Karna ia tak mampu mendengar lembut bisik ku nan mesra...
Dan ketika masa satukan jiwa..
Ku raih tangan nya...
Lalu ia mencium tanganku...
Lalu ku tatap wajah nya...
Kucium kening nya..
Lalu kucium kedua pipinya...
Lalu kami duduk bersama..
Lalu ku dengar bepatah patah kata bagaikan cerca...
Yg kadang tiada kumengerti arti dan makna katanya...
Ku hanya diam seribu bahasa..
Karna kami miliki bahasa yg berbeda..
Dan aku menyayangi sepenuh jiwa..
Entah karena kasihan dan rasa iba..
Yaa itulah kekasih ku...
Dengan rasa jiwa kami bercinta dan ber asmara..
Tiada canda dan tawa..
Hanya sepi bernaung cinta..
Tuhan tlah satukan hati kami..
Di bawah naungan sabda suci..
Tuk menyayangi hingga akhi nanti..
Tapi entah..
Kadang Ia lembut bagaikan salju..
Hingga ku rasakan kesejukan beesama nya..
Tapi Terkadang ia bagaikan api yg membara...
Hingga ku merasa tak mampu memegang nya..
Dan seakan ku terbakar oleh nya..
Entah...
Mampukah ku menahan panas nya..
Atau kah mungkin akan ber akir nya rasa yg mengabu...
Dan sirna oleh deruan sang bayu..
Entah..
Ku pasrah kan segala nya pada sang esa...
Hanya doaku..
Moga ku mampu menjaga rasa ku..
Hingga ku mampu bertahan dengan segala nya...
Hingga ku mambu persembahkan bahagia...
Hingga nyawa tercerai raga...
Rabu, 18 April 2018
DELIMA
PERHENTIAN DILEMA
Kau ajarkan cinta dari kebohonganmu
kau menuangkan madu yang mengalir bersama racun dalam seteguk rinduku
perbuatanmu....
terlalu sempurna untuk aku dustakan
maka yakin dan percayalah aku
tanpa perlu aku sandarkan
sangkaanku kepada curiga
setiap madahmu menitipkan persendaan
pada kejujuran dan keikhlasan
setiaku telah kaubutakan
agar tidak terarah ke lain haluan
hanya satu jalan kaubimbingkan
terarah ke altar pemujaanmu
Mengapa kau hunjam aku
dengan kezaliman kemesraanmu?
Mengapa terlalu kauinginkan aku?
ternyata telah ada takhta lain
yang sanggup meneduhkan engkau
di bawah selebar teduhan rimbun kasihnya
yang ada padanya....
kesenangan bertimbun-timbun
tapi hairan memikirkan
tetap saja mereka itu semuanya
kau ludahi dengan keenggananmu
sudah kurelakan kau berlari pergi
tetap juga kaumerantai aku
dengan pelukan kejap lagi kedapmu
terkunci beku pada hiba titisan airmatamu
Perlukah kita teruskan kegilaan ini???
Kau ajarkan cinta dari kebohonganmu
kau menuangkan madu yang mengalir bersama racun dalam seteguk rinduku
perbuatanmu....
terlalu sempurna untuk aku dustakan
maka yakin dan percayalah aku
tanpa perlu aku sandarkan
sangkaanku kepada curiga
setiap madahmu menitipkan persendaan
pada kejujuran dan keikhlasan
setiaku telah kaubutakan
agar tidak terarah ke lain haluan
hanya satu jalan kaubimbingkan
terarah ke altar pemujaanmu
Mengapa kau hunjam aku
dengan kezaliman kemesraanmu?
Mengapa terlalu kauinginkan aku?
ternyata telah ada takhta lain
yang sanggup meneduhkan engkau
di bawah selebar teduhan rimbun kasihnya
yang ada padanya....
kesenangan bertimbun-timbun
tapi hairan memikirkan
tetap saja mereka itu semuanya
kau ludahi dengan keenggananmu
sudah kurelakan kau berlari pergi
tetap juga kaumerantai aku
dengan pelukan kejap lagi kedapmu
terkunci beku pada hiba titisan airmatamu
Perlukah kita teruskan kegilaan ini???
Langganan:
Komentar (Atom)
ALKISAH ROMANSA TABUNG INGATAN
Selepas pamitnya sang surya keperaduan Rinai hujan mainkan melodi diatap rumbia pondok sepi Akrab dekap soneta terlepas dari netra Arom...