Sabtu, 05 Mei 2018

Angin Malam

"...kelak, jalanku akan sempoyongan. melintasi jejak yang kuanggap pemanis dahulu kala ketika rindang rindu hidup di atapi janji rembulan, dan selebihnya pupuk-pupuk kama jaya bagai tongkat pituah yang semestinya tulang kakiku pun mewah menapaki permadani indah dalam setumpuk jerami sampah.

Berlalulah !

riwayat sesaat mengubah perjalanan hakikat. sebab kini masaku terjerat pusara yang dekat hingga tulang tuaku mestinya hendak hijrah kepada hukum baka dan sebelum itu, tidak ada istimewanya akar puisi yang konon tertanam dalam lautan madah.

akan tetapi, lakaran yang pernah tersaji ada khasanah kasih yang aku lingkarkan pada jari telunjukmu untuk kemudian pamrihku bersamaan tulang tua tumbang menghadap lubang perkemahanku yang ditumbuhi benih-benih gabah.

tebuslah kata peninggalanku dengan susunan doa cintamu. karna sudah banyak harap yang dikarapkan melintas sepi dan sunyi, sebagaimana rangkuman kudus yang ku amalkan sebagai cadar pekat ketika betis cakrawala menginjak nada-nada pemujaan rindu tak lagi ampuh.

kali ini biar kusemai air mata pasir tatkala warna putihnya terkena karma. sebab aku tak ingat lagi abad berapa ketika sayap merpati mengajak jiwaku bersukma purnama, pun di akhir bincang hari sepertinya betis cakrawala mengatungkanku pada cermin luluh dan keruh.

dan terpungut sudah sisa sya'ir yang tergigit ambisi tanpa upeti manis. sejilid pertanyaan yang menyerupai logika baunya begitu menyengat, hampir saja membuat mimpiku lupa terbangun untuk menatap ribuan kunang-kunang yang hendak mematangkan suhu malam di sepertiga shubuh."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALKISAH ROMANSA TABUNG INGATAN

Selepas pamitnya sang surya keperaduan Rinai hujan mainkan melodi diatap rumbia pondok sepi Akrab dekap soneta terlepas dari netra Arom...