Jumat, 25 Mei 2018

ALKISAH ROMANSA TABUNG INGATAN


Selepas pamitnya sang surya keperaduan
Rinai hujan mainkan melodi diatap rumbia pondok sepi
Akrab dekap soneta terlepas dari netra
Aroma warna pujangga pelan memudar
Ber-iring salam langit temaram bersama malam
Melodi rinai hujan lalu mendayu
Raut wajah rupa menyapa kalbu
Hardiknya bangkitkan tabung kenang
Alunkan melodi KISAH masa silam
Seuntai rupa wajah...
Tarik ingatan pada brankas kotak hitam
Tenggelam biduk hati dalam samudera kenangan
Sunyi..
Hening lingkup jiwa terkurung pukat kenang
Meski rinai hujan mengalun cadas
Hentak gelegar langit tiada semarakan hati
Tiap larik soneta kembali terngiang
Meski gelapnya malam rima syair bentuk pelangi
Dan merobek tangsi pada netra
Pondok sepi...
Basah dalam gelegar hardik langit
Merahim raga menggigil terbasuh kenangan
Diam membeku dalam bait soneta yang lampau
Gelayut kenang diam terbenam
Sepi terpukat hujan dingin menikam
Hasrat ingin mengikut pamit sang surya
Lelap tenggelam dirahim lembah yang sepi
Mengikis serat alur waktu
Meski raga membatu tiada mengapa
Melodi hujan semakin cadas
Angin menderu tumpahkan amarah
Tangsi airmata pecah digelegar halilintar
Tabung kenang meluap sudah
Gemuruh dilema sesak membakar dada
Teduh...
Atap rumbia tiada lagi berdentang
Larik soneta tiba pada akhir pintalan
Tergugu hati untuk mencerna gurindam
Meski tetaplah puisi
Damai mengkaji dirahim lembah sepi
Salam...

Sabtu, 05 Mei 2018

Angin Malam

"...kelak, jalanku akan sempoyongan. melintasi jejak yang kuanggap pemanis dahulu kala ketika rindang rindu hidup di atapi janji rembulan, dan selebihnya pupuk-pupuk kama jaya bagai tongkat pituah yang semestinya tulang kakiku pun mewah menapaki permadani indah dalam setumpuk jerami sampah.

Berlalulah !

riwayat sesaat mengubah perjalanan hakikat. sebab kini masaku terjerat pusara yang dekat hingga tulang tuaku mestinya hendak hijrah kepada hukum baka dan sebelum itu, tidak ada istimewanya akar puisi yang konon tertanam dalam lautan madah.

akan tetapi, lakaran yang pernah tersaji ada khasanah kasih yang aku lingkarkan pada jari telunjukmu untuk kemudian pamrihku bersamaan tulang tua tumbang menghadap lubang perkemahanku yang ditumbuhi benih-benih gabah.

tebuslah kata peninggalanku dengan susunan doa cintamu. karna sudah banyak harap yang dikarapkan melintas sepi dan sunyi, sebagaimana rangkuman kudus yang ku amalkan sebagai cadar pekat ketika betis cakrawala menginjak nada-nada pemujaan rindu tak lagi ampuh.

kali ini biar kusemai air mata pasir tatkala warna putihnya terkena karma. sebab aku tak ingat lagi abad berapa ketika sayap merpati mengajak jiwaku bersukma purnama, pun di akhir bincang hari sepertinya betis cakrawala mengatungkanku pada cermin luluh dan keruh.

dan terpungut sudah sisa sya'ir yang tergigit ambisi tanpa upeti manis. sejilid pertanyaan yang menyerupai logika baunya begitu menyengat, hampir saja membuat mimpiku lupa terbangun untuk menatap ribuan kunang-kunang yang hendak mematangkan suhu malam di sepertiga shubuh."

Rabu, 18 April 2018

Kekasih ku tak berbahasa..
Tuli tak mendengar indah nya lantunan kata...
Wajah nya sayu penuh derita...
Dgn rasa ku jalin asmara...
Tiada pernah kubisik kan rayu dan kata mesra...
Tiada pernah pula kusanjung ke elokan nya..
Karna ia tak mengerti sabda yg aku kata..
Tiada pernah pula kubisik kan kata lembut nan mesra...
Tiada pernah pula ku bisik kan kata cinta.. Kasih.. sayang ku padanya...
Karna ia tak mampu mendengar lembut bisik ku nan mesra...
Dan ketika masa satukan jiwa..
Ku raih tangan nya...
Lalu ia mencium tanganku...
Lalu ku tatap wajah nya...
Kucium kening nya..
Lalu kucium kedua pipinya...
Lalu kami duduk bersama..

Lalu ku dengar bepatah patah kata bagaikan cerca...
Yg kadang tiada kumengerti arti dan makna katanya...
Ku hanya diam seribu bahasa..
Karna kami miliki bahasa yg berbeda..
Dan aku menyayangi sepenuh jiwa..
Entah karena kasihan dan rasa iba..
Yaa itulah kekasih ku...
Dengan rasa jiwa kami bercinta dan ber asmara..
Tiada canda dan tawa..
Hanya sepi bernaung cinta..
Tuhan tlah satukan hati kami..
Di bawah naungan sabda suci..
Tuk menyayangi hingga akhi nanti..
Tapi entah..
Kadang Ia lembut bagaikan salju..
Hingga ku rasakan kesejukan beesama nya..
Tapi Terkadang ia bagaikan api yg membara...
Hingga ku merasa tak mampu memegang nya..
Dan seakan ku terbakar oleh nya..
Entah...
Mampukah ku menahan panas nya..
Atau kah mungkin akan ber akir nya rasa yg mengabu...
Dan sirna oleh deruan sang bayu..
Entah..
Ku pasrah kan segala nya pada sang esa...
Hanya doaku..
Moga ku mampu menjaga rasa ku..
Hingga ku mampu bertahan dengan segala nya...
Hingga ku mambu persembahkan bahagia...
Hingga nyawa tercerai raga...

DELIMA

PERHENTIAN DILEMA

Kau ajarkan cinta dari kebohonganmu
kau menuangkan madu yang mengalir bersama racun dalam seteguk rinduku
perbuatanmu....
terlalu sempurna untuk aku dustakan
maka yakin dan percayalah aku
tanpa perlu aku sandarkan
sangkaanku kepada curiga
setiap madahmu menitipkan persendaan
pada kejujuran dan keikhlasan
setiaku telah kaubutakan
agar tidak terarah ke lain haluan
hanya satu jalan kaubimbingkan
terarah ke altar pemujaanmu

Mengapa kau hunjam aku
dengan kezaliman kemesraanmu?
Mengapa terlalu kauinginkan aku?
ternyata telah ada takhta lain
yang sanggup meneduhkan engkau
di bawah selebar teduhan rimbun kasihnya
yang ada padanya....
kesenangan bertimbun-timbun
tapi hairan memikirkan
tetap saja mereka itu semuanya
kau ludahi dengan keenggananmu
sudah kurelakan kau berlari pergi
tetap juga kaumerantai aku
dengan pelukan kejap lagi kedapmu
terkunci beku pada hiba titisan airmatamu

Perlukah kita teruskan kegilaan ini???

Selasa, 13 Februari 2018

Mengharap Seteguk Cinta

MENGHARAP SETEGUK CINTA

Sejenak meraba hati sambil meneguk
Secangkir wedang serai campur jahe
bukan manis tetapi pahit rasa meramai
Mirip tetesan huruf-huruf tersusun pada diary
menjeritkan puisi yang memetik waktu

Kembali pada sendu luruh satu-satu jatuh pada pangkuan siapa
Asa yang gerimis miris liris

Seruput wedang serai campur jahe
Pagi terus lari pada panas siang menantang
Kalimat bergerak sendiri dari hati ke langit
Ke langit
Berharap kata itu jatuh bersama cinta
Ke hatinya.


HUKUM KEKEKALAN ENERGI CINTA

Energi cinta itu kekal. Ia tak dapat kau musnahkan, pun tak dapat kau rekaciptakan. Ia hanya bisa kau ubah bentuknya.
Energi cinta bisa kau ubah menjadi energi kinetik yang menggairahkan. Bisa kau ubah menjadi energi potensial yang mampu membahagiakan. Ia pun bisa kau ubah menjadi energi mekanik yang mampu menggerakkan. Menggerakkan hati dan pikiran.
Ia mampu menjelma dalam bentuk kasih sayang, perhatian, pengertian, kehangatan, kekaguman, penghormatan,
perjuangan, dan pengorbanan

Selasa, 09 Januari 2018

يَا إِمَامَ الرُّسْلِ يَا سنَدِي


يَا إِمَامَ الرُّسْلِ يَا سنَدِي
Wahai penghulu para rasul ! wahai sandaranku

أَنْتَ بَعْدَ الله مُعْتَمَدِي
Setelah Allah, engkau adalah peganganku


فَبِـدُنْيـَايَ وَآخِـرَتِي
Dalam urusan dunia dan akhiratku

يا رسول الله خُذْ بِيَدِيْ
Wahai rasulullah! Bantulah aku

عَطْفَـةً يَا جِيْرَةَ الْعَلَـمِ

Belas kasihmu wahai yang berjiran dengan Ka’bah

يَا أُهَيْلَ الْجُوْدِ والْكَـرَمِ
Wahai keluarga yang bermurah dan mulia

نحنُ جِيْرَانٌ بِذَا الْحَـرَمِ
Kami berada berhampiran dengan Kota Haram

حَرَمُ الإحْسَانِ والْحَسَـنِ
Kota yang penuh ihsan dan kebaikan

نحن مِنْ قَوْمٍ بِهِ سَكَنـُوْا
Kami daripada kaum yang tinggal di Kota Haram

وَبِهِ مِنْ خَوْفِهِمْ أَمِنـُوْا
Di dalamnya mereka aman daripada ketakutan

وَبِآيَاتِ الْقُرْآنِ عُنـُوْا
Dan oleh ayat-ayat Al-Quran mereka di perhatikan

فَاتَّئِـدْ فِيْنـَا أَخَا الْوَهَـنِ
Maka janganlah kamu tergesa-gesa atas kami wahai saudara yang lemah

نَعْرِفُ الْبَطْحـَاء وَتَعْرِفُنـَا
Kami kenal kepada padang pasir (Mekkah) dan ia mengenal kami

وَالصَّـفَا وَالْبَيْـتُ يَأْلَفُنـَا
Demikian pula Bukit Sofa dan Kabah

وَلَنَا الْمَعْـلَى وَخَيْـفُ مِنَى
Untuk kami Mala dan Khaif Mina

فَاعْلَمَـنْ هذَا وَكُنْ وَكُـنِ
Ketahuilah engkau akan hal ini dan yakinlah

وَلَنـَا خَيْـرُ الأَنـَـاِم أَبُ
Untuk kami sebaik-baik manusia sebagai ayah

وعَـلِيٌّ الْمُرْتَضَـى حَسَـبُ
Dan Ali Al-Murtadha sebagai datuk kami

وإِلَى السِّـبْطَيْـنِ نَنْتَسِـبُ
Kepada dua cucu Nabi (Hasan & Husein) kami bernasab

نَسَبـًا مَا فِيْـهِ مِـنْ دَخَـنِ
Nasab yang tiada terdapat keraguan

أَهْلُ بَيْتِ الْمُصْطَـفَى الطُّهُـرِ
Keluarga nabi yang suci

هُـمْ أَمَـانِ الأَرْضِ فَاذَّكِـرِ
Mereka pengaman dimuka bumi, maka ingatlah itu

شُـبِّهُـوْا بِالأَنْجُـمِ الزُّهُـرِ
Mereka umpama bintang-bintang yang gemerlapan

مِثْلَ مَا قَدْ جَـاءَ فِي السُّنَـنِ
Sebagaimana telah di nyatakan dalam hadith-hadith

وسَـفِـيْنٌ لِلنَّـجَـاةِ إِذَا
Mereka umpama bahtera keselamatan bila

خِفْتَ مِنْ طُوْفَانِ كُلِّ أَذًى
Kau takut angin taufan yang menghanyutkan

فَانْجُ فِيْهَا لاَ تَكُوْنُ كَـذَا

Maka naiklah ke atasnya kau akan selamat

فَاعْتَصِمْ بِاللهِ وَاسْتَعِنِ
Berpegang teguhlah dengan Allah dan mintalah pertolongan

رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ
Ya Allah, kurniakanlah kami dengan berkat mereka

وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ
Berilah petunjuk pada kami jalan yang baik dengan kehormatan mereka

وَأَمِتْـنَا فِي طَرِيْقَتِهِمْ
Matikanlah kami pada jalan mereka

وَمُعَـافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ
Serta selamatkanlah kami dari fitnah

ثُمَّ لاَ تَغْتَرَّ بِالنَّسَبِ
Janganlah engkau membanggakan diri dengan nasabmu

لاَ وَلاَ تَقْنَعْ بِكَانَ أَبِي
Dan jangan pula engkau merasa cukup dengan kejayaan ayahmu

وَاتَّبِعْ فِي الْهَدْيِ خَيْرَ نَبِيّ
Ikutilah sebaik-baik nabi dalam petunjuknya

أحْمَدِ الْهَادِي إلَى السَّنَنِ
Iaitu Ahmad, pemberi petunjuk pada jalan yang benar




Lirik Qasidah Yaa Imamarrusli (Al Imam Al-Qutb Al Habib 'Abdullah Bin Alwi Al-Haddad)

ALKISAH ROMANSA TABUNG INGATAN

Selepas pamitnya sang surya keperaduan Rinai hujan mainkan melodi diatap rumbia pondok sepi Akrab dekap soneta terlepas dari netra Arom...